Sistem Pengenal Wajah Diterapkan di Olimpiade Tokyo 2020

Logo raksasa Olimpiade 2020 tersaji di tepi jalan utama di Tokyo, Jepang. - Reuters/Yuya Shino
08 Agustus 2018 17:47 WIB Newswire Olahraga Share :

Harianjogja.com, JAKARTA – Olimpiade 2020 akan digelar di Tokyo. Panitia penyelenggara atau Tocog, mengumumkan pada Selasa (7/8/2018) akan menggunakan teknologi pengenal wajah untuk meningkatkan keamanan di sekitar arena pertandingan.

Lewat kerja sama dengan raksasa industri teknologi informasi dan telekomunikasi Jepang, NEC, mereka mengembangkan sistem yang akan menjadikan Olimpiade Tokyo 2020 sebagai olimpiade pertama yang menerapkan teknologi tersebut.

Teknologi yang didemonstrasikan kepada media lewat sebuah acara di ibu kota Jepang tersebut, akan menggunakan chip yang ditanamkan ke kartu identitas agar bisa secara otomatis mengidentifikasi orang-orang yang memasuki lebih dari 40 lokasi penyelenggaraan pertandingan.

Lebih dari 300.000 atlet dan staf Olimpiade akan diminta untuk mengirimkan foto mereka ke basis data sebelum pesta olahraga itu dimulai pada Juli 2020.

"Setiap kali seseorang memasuki sebuah fasilitas, mereka akan melewati pemeriksaan keamanan," kata kepala keamanan Olimpiade Tokyo 2020, Tsuyoshi Iwashita.

"Akan tetapi, arena-arena di Tokyo tidak selalu memiliki ruang yang cukup untuk tempat pemeriksaan maupun antrean yang disebabkannya. Ketika acara berlangsung, kami perkirakan banyak orang datang dan udara sangat panas. Itulah kenapa kami mengenalkan teknologi pengenalan wajah ini," ujarnya.

Sistem tersebut tidak ditujukan memindai wajah penonton, melainkan demi meningkatkan keamanan serta mengurangi antrean masuk bagi atlet.

"Lebih dari 40 fasilitas, termasuk stadion utama, Pusat Siaran Internasional, kampung atlet dan sebagainya, akan dilengkapi sistem pengenal wajah. Atlet, staf Olimpiade, relawan dan media akan termasuk dalam sistem ini," kata Wakil Presiden Senior NEC Masaaki Suganuma.

NEC mengaku telah menguji teknologi tersebut di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, selain juga menempatkannya di banyak fasilitas umum, seperti bandara.

Dalam demonstrasi yang dilakukan, teknologi itu sukses mengenali wajah serangkaian orang, termasuk mereka yang mengenakan kursi roda serta dari berbagai tinggi badan yang berbeda, yang merupakan fitur utama sistem NEC tersebut.

"Sebanyak 99,7 persen wajah dikenali sistem dengan benar. Angka ini tidak akan berubah berdasarkan kewarganegaraan attupun tinggi badan," ucap Suganuma.

Sumber : Antara/Reuters