Kompetisi Kelas Khusus Olahraga Kembali Digelar

Babak penyisihan empat besar cabor bola voli antara SMPN 3 Sleman melawan SMPN 1 Ngawen, Sabtu (17/11). - Anita Nindyas Saputri
18 November 2018 22:49 WIB M124 Olahraga Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Kompetisi Kelas Khusus Olahraga kembali dilaksanakan. Kegiatan antarsekolah itu diadakan setiap lima tahun sekali. Pelaksanaan tahun ini diikuti 13 sekolah termasuk ada sejumlah sekolah yang secara mandiri seperti SMP 3 Imogiri, SMP 2 Kretek.
"Kegiatan seperti ini memang perlu dipertahankan. Kesempatan anak-anak untuk mengetahui tingkat kemampuan daerah lainnya. Ini harapan kami, kelas olahraga ini diadakan setiap tahunnya. Kemudian dilanjutkan dengan pembinaan yang intensif," kata Tumijo, guru SMP 1 Panjatan sekaligus panitia pelaksana.
Tahun ini hanya delapan cabang olahraga yang dipertandingkan dan tidak semua sekolah mengikuti. "Harapan kami untuk tahun berikutnya semakin banyak, semakin bervariasi,” kata Tumijo.
Delapan cabang olahraga yang dipertandingkan adalah sepak bola, bola voli, bola basket, sepak takraw, bulu tangkis, catur, tenis meja, dan atletik. Cabor atletik sendiri memperlombakan delapan nomor. Ada lari 80 meter, lari 800 meter, lari 1.500 meter, lompat jauh, tolak peluru, dan lempar lembing.
Lokasi pertandingan cabor sepak bola di Lapangan Kranggan dan Lapangan Banaran karena yang bertanding ada kelas putra dan putri. Cabor bulu tangkis di Balai Desa Kranggan. Cabor catur dan tenis meja di SMP 2 Galur. Cabor bola voli di Gor Srandakan dan atletik di Stadion Cangkring.
Cabang bola voli putra tingkat SMP se-DIY digelar di Gedung Olahraga Srandakan, Sabtu (17/11). Adapun untuk putri sudah dilaksanakan sehari sebelumnya yaitu Jumat (16/11). Juara diraih oleh SMP 13, disusul SMP 1 Kalasan sebagai juara II, dan SMP 1 Playen sebagai juara III. Juara kelas putra diraih oleh SMPN 2 Kretek sebagai juara I, SMPN 1 Kretek juara II, dan SMPN 3 Sleman.
Paguyuban Kelas Khusus Olahraga Isbandono mengakui persiapan baik penyelenggara maupun atlet sangat mepet. “Waktu anak-anak juga libur, kondisi guru sudah tidak mengajar sehingga antusias dukungan guru dan suporter meriah. Kaitan dengan ini, kita hanya mengambil kelas khusus saja." katanya.