STADION MANDALA KRIDA: Dulu Jadi Bahan Olok-Olok, Kini Berkelas Dunia

Stadion Mandala Krida - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
11 Januari 2019 16:43 WIB Jumali Olahraga Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Stadion Mandala Krida yang direhab total sejak enam tahun lalu diresmikan Gubernur DIY Sri Sultan HB X, Kamis (10/1/2019) kemarin. Stadion ini kini punya fasilitas olahraga berstandar internasional. Berikut laporan wartawan Harianjogja.com Jumali.

Dahulu, kandang PSIM Jogja, Stadion Mandala Krida, acap menjadi bahan cemoohan di media sosial. Lapangan yang selalu tergenang saat hujan lebat turun, lampu stadion yang kerap mati, hingga atap tribune yang selalu bocor melekatkan citra stadion ini sebagai gelanggang uzur dan tidak terawat.

Stadion yang dibangun pada 1978 ini tak hanya menjadi markas PSIM, tetapi juga pernah digunakan oleh Perkesa Mataram, Mataram Indocement, PSS Sleman, dan Real Mataram. Mandala Krida kala itu masih dikelola Yayasan Mandala Krida.

Citra negatif ini perlahan luntur. Kepala Balai Pemuda dan Olahraga (BPO) Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY pada 2011, Teguh Raharjo, mengambil alih pengelolaan stadion dari Yayasan Mandala Krida ke BPO.

Setahun kemudian BPO merencanakan renovasi total Stadion Mandala Krida. PSIM Jogja pun harus menjadi tim musafir dan untuk sementara pindah ke Stadion Sultan Agung Bantul selama tiga musim terakhir di kompetisi Liga 2.

Pembangunan ulang Stadion Mandala Krida Baru diawali dengan penyusunan detailed engineering design (DED) pada akhir 2012.

Pembangunan fisik untuk kompleks stadion dengan luas 7,2 hektare ini dimulai pada 2013 secara bertahap. Diawali dengan pembangunan pagar stadion, merobohkan stadion, hingga pembangunan ulang sejumlah fasilitas olahraga seperti arena panjat tebing, lapangan voli pasir, lapangan basket, sirkuit sepatu roda dan balap motor.

BPO kemudian meningkatkan kapasitas stadion dari 25.000 penonton menjadi 30.000 penonton. Tak sampai di situ, rumput lapangan juga dibongkar dan diganti dengan rumput baru. Lintasan atletik sintetis bertaraf internasional dipasang, menelan anggaran hingga Rp13 miliar.

“Lintasan atletik ini memiliki dua warna dan telah mendapatkan sertifikat internasional. Jadi jika ada pemecahan rekor akan tercatat dan diakui,” kata konsultan lintasan atletik dari PT Arsigraphi, Sugiharto, Kamis (10/1)

Sarana pendukung juga dibuat bagus, seperti ruang transit VIP, ruang ganti pemain, ruangan khusus wasit dan panitia penyelenggara, musala, gudang, hingga kamar mandi.

“Di samping itu juga ada food court dan beberapa sarana yang lainnya,” imbuh Kepala BPO Disdikpora DIY ketika Mandala Krida direnovasi pada 2016 dan 2017, Edy Wahyudi.

Belum Komplet

Meski telah menelan dana pembangunan Rp174,4 miliar dan telah diresmikan oleh Gubernur DIY Sri Sultan HB X, stadion tidak bisa langsung dipakai seluruhnya.

Rumput Zoyzia matrella linn merr yang dipasang sebagai rumput utama lapangan sepak bola belum kuat dan tak bisa dipakai untuk pertandingan sepak bola.

“Rumput stadion kami datangkan dari Pangandaran. Rumput ini sesuai dengan standar FIFA dan mudah dirawat. Tetapi baru bisa digunakan dua bulan lagi. Sebab, baru selesai dipasang Desember kemarin. Artinya baru 80 persen. Kami harus menunggu akarnya kuat terlebih dahulu,” ucap konsultan rumput Stadion Mandala Krida Jogja Hari Gunawan.

Penerangan dan lingkungan sekitar stadion juga perlu dibenahi. Rencananya, lampu penerangan akan menggunakan sistem LED dan dipasang di atap stadion. Tribune Mandala Krida  juga akan dilengkapi dengan single seater (kursi tunggal) dan food court.

“Jadi tidak lagi memakai tiang pancang. Kami hitung-hitung untuk biaya penerangan, videotron, food court dan pemasangan single seater kurang lebih butuh Rp50 miliar dan ini kami ajukan untuk tahun 2020. Sebab, di 2019, kami tidak mendapatkan anggaran sama sekali,” ucap Edy Wahyudi.

Dia mengakui proses pembangunan ulang Stadion Mandala Krida ini cukup banyak mengalami hambatan.

“Kami akui karena tidak menggunakan sistem multiyears, pembangunan stadion ini cukup pelik. Kami harus menyesuaikan dengan anggaran yang ada. Semisal di 2013 hanya tersedia Rp6 miliar dan kami harus menyesuaikan. Inilah yang membuat kenapa pembangunannya berjalan cukup lama,” kata dia.

Proses tendernya juga bermasalah. Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menemukan persekongkolan dalam lelang tahun anggaran 2016 dan 2017. KPPU menyatakan Edy bersekongkol dengan dengan kontraktor dan memberikan rekomendasi kepada Pemda DIY untuk menjatuhkan sanksi administratif kepada Edy.

Edy menegaskan sudah menjalankan tugas dalam pelelangan sesuai aturan pengadaan barang dan jasa yang diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 54/2010 tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah beserta aturan turunannya.

Kerikil dalam renovasi total Mandala Krida itu tak menghalangi peresmian oleh HB X. Gubernur DIY mengharapkan Stadion Mandala Krida dengan wajah baru ini mampu menghidupkan kembali prestasi olahraga di DIY.

“Stadion Mandala Krida bukan stadion biasa, tetapi manifestasi jiwa sportivitas insan olahraga DIY. Saya berharap agar stadion dikelola dengan profesional. Saya harap bisa segera digunakan untuk kegiatan olahraga.”