Nadi yang Dipotong: Bagaimana Industri Rokok Tersisih dari Industri Olahraga Global

Mission Winnow, branding Philip Morris, terpampang di bodi mobil Ferrari yang dikemudikan Charles Leclerc. - Reuters
10 September 2019 23:37 WIB Budi Cahyana Olahraga Share :

Harianjogja.com, JOGJA—Rokok pernah menjadi nadi olahraga. Kemudian, persepsi khalayak terhadap sigaret berubah drastis dalam seratus tahun. Sekarang, industri rokok menepi dan harus kucing-kucingan apabila ingin tetap memompa darah industri olahraga.

Seabad silam, rokok menjadi seperti tonik bagi atlet untuk tetap bugar dan Inggris adalah negeri para perokok.  Sekitar 82% pria dan 40% wanita menjadi perokok ketika Perang Dunia II belum lama usai. Sepertiga laki-laki menyedot 100 batang sigaret sepekan atau rata-rata 14 batang saban hari.

Rokok adalah pemandangan umum di olahraga. Di Italia, Gino Bartali, pembalap sepeda pemenang Tour de France 1938 dan 1948 pernah datang ke dokter mengeluhkan tekanan darah rendah. Resep yang dia dapat bakal memicu perdebatan panjang jika diberikan hari ini: mengisap tiga batang rokok sehari.

Iron in the Blood, buku yang mengisahkan kelahiran West Ham United mendeskripsikan bagaimana kiper-kiper di Liga Inggris merokok ketika gawang mereka sedang tak diserang dan hakim garis mengisap cangklong sambil mengibarkan bendera.

Pada 1950, Newcastle United membayar pemainnya dengan 20 bungkus rokok per pekan, bersama gaji dan bonus lainnya. Satu pemain yang paling kecanduan nikotin, Jackie Milburn, mendapat keuntungan besar. Dia menerima berbungkus-bungkus dari teman-temannya yang tak merokok dan mengisap batang per batang sampai tandas.

Dalam autobiografinya, Jackie mengaku bukan cuma dia yang merokok. Sebelum final Piala FA 1951, dia pergi ke toilet untuk mengisap sigaret demi meredakan ketegangan dan sudah ada empat pemain Newcastle lain yang merokok di kakus.

Menurut Jackie, isapan rokok membantunya mengabaikan rasa sakit dari cedera otot perut. Belakangan, anak Jackie, Jack, berkata di buku Jackie Milburn: A Man of Two Halves, “Di usia 33 tahun, dia merasa sangat tua. Dia menderita secara fisik dan mental sehingga berusaha mengubah gaya hidup.”

Jackie meninggal dalam usia 64 tahun karena kanker.

Industri rokok dan sepak bola sangat mesra. Dixie Dean, salah satu striker paling subur dalam sejarah Liga Inggris, dibayar 50 paun, enam kali lipat dari gajinya per pekan di Everton untuk menjadi bintang iklan dengan slogan, “Rokok dengan tendangan di dalamnya.”

Dia dipotret dengan bibir menjepit sigaret, sesuai gambaran pria kelas pekerja. Lewat iklan tersebut, sepak bola dan rokok ditempatkan dalam satu identitas. Kelas pekerja menyukai sepak bola dan kelas pekerja merokok tiap hari.

Stanley Matthews, yang dianggap sebagai pesepak bola terbaik Inggris sepanjang masa, bukan perokok. Tetapi dia berpose untuk iklan rokok pada 1954.

Stan tersenyum lebar, memperlihatkan barisan giginya yang putih. Berseragam putih Timnas Inggris dengan lambang Tiga Singa di dada kiri, Stan menjepit rokok yang menyala menggunakan telunjuk dan jari tengah tangan kanannya. “The cigarette for me... Give me a Craven 'A' every time.”

Stan menjadi pesepak bola sekaligus bintang iklan rokok terakhir. Di dekade 1950-an, kajian yang mengaitkan rokok dengan kanker mulai dipublikasikan. Kebiasaan merokok di kalangan pesepak bola tak lagi terang-terangan dan menjadi aib.

“Saya mungkin tidak seharusnya mengatakan ini, tetapi ada pemain yang harus merokok di paruh pertandingan. Awalnya dia muntah-muntah karena stres, kemudian dia akan merokok berbatang-batang. Ini bukan sesuatu yang lazim hari ini, tetapi beberapa pemain masih melakukannya,” ujar Gianfranco Zola menceritakan pengalamannya saat bermain di Parma seperti dikutip dari artikel How The Game's Relationship with Smoking Has Changed Over The Generations.

Secara sembunyi-sembunyi, tak sedikit jenius-jenius lapangan hijau menjadi perokok berat: Jack Charlton, Johan Cruyff, Ossie Ardiles, Socrates, Robert Prosinecki, Gianluca Vialli, Fabian Barthez, Zinedine Zidane, Wayne Rooney, Dimitar Berbatov, Roberto Carlos, Alsesandro Nesta, Gianluigi Buffon, Mesut Ozil, Mario Balotelli.

Meski perokok dan piawai memainkan bola, mereka tak mungkin menjadi seperti Dixie Dean dan Stanley Matthews. Setelah studi-studi kesehatan menunjukkan rokok sebagai penyebab kanker, persepsi orang-orang terhadap rokok berubah. Rokok yang semula dipandang selayaknya vitamin kemudian dianggap racun. Frasa kanker paru-paru dan perokok pasif mulai populer.

Mendiang Johan Cruyff menyampaikan penyesalan besar karena kecanduan rokok saat masih aktif bermain. “Sepak bola memberi saya segalanya dan rokok nyaris merenggut semuanya,” kata Cruyff  setelah menjalani operasi jantung pada 1996.

Pionir totaal voetbal itu meninggal dunia pada 24 Maret 2016 di usia 68 tahun karena kanker paru-paru.

Industri rokok dan industri sepak bola semakin berjauhan. Hubungan yang renggang ini dimulai dari FIFA, badan sepak bola tertinggi dan paling otoritatif di dunia, dengan dukungan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) yang terus mengampanyekan bahaya rokok bagi kesehatan.

Keith Cooper, Direktur Komunikasi FIFA pada 30 Agustus 2000 mengeluarkan pernyataan tertulis yang masih berlaku sampai sekarang. “Sepak bola yang dimainkan 200 juta lebih atau seperlima penduduk Bumi punya nilai komersial yang tinggi dan potensi besar untuk membentuk brand image. Pada masa-masa awal perkembangan industri sepak bola, tembakau sangat menonjol dalam pembentukan citra merek lewat sepak bola. Beberapa pemain terkenal secara pribadi mempromosikan merek rokok, termasuk mereka yang bukan perokok,” ujar Cooper dalam maklumat berjudul Tobacco Sponsorship in Football: The Position of FIFA.

FIFA & Kampanye Antitembakau

FIFA pernah menikmati guyuran uang dari industri rokok untuk menggelar dua Piala Dunia, dan membengkokkan hukum demi perusahaan rokok.

Pada Piala Dunia 1982 di Spanyol, RJReynolds menjadi satu dari delapan sponsor resmi selain Seiko, Metaxa, JVC, Iveco, Fujifilm, Canon, dan Gilette. Perusahaan yang sekarang sudah dimiliki Japan Tobacco dan British American Tobacco itu mempromosikan rokok Winston.

RJReynolds juga punya hak untuk menjadi sponsor di Piala Dunia 1986. Yang terjadi berikutnya menunjukkan kuasa industri rokok, juga FIFA, terhadap hukum sebuah negara.

Kolombia ditunjuk sebagai tuan rumah Piala Dunia 1986. Namun, FIFA menambah jumlah peserta turnamen dari 16 menjadi 24 dan Kolombia tak sanggup membangun infrastruktur untuk mengakomodasi perubahan peserta. FIFA lantas menetapkan Meksiko sebagai sahibulbait Piala 1986 pengganti Kolombia. Masalahnya, Meksiko punya undang-undang yang melarang iklan rokok di arena olahraga. Joao Havelange, Presiden FIFA kala itu, melobi pemerintah Meksiko untuk membuat perkecualian agar Piala Dunia 1986 tetap berjalan dan tak kehilangan sponsor. Pemerintah Meksiko kemudian mengizinkan reklame tujuh meter Camel, rokok produksi RJReynold, dipasang di pinggir semua lapangan venue Piala Dunia. Lewat layar televisi, sedikitnya 650 juta pasang mata di seluruh melihat papan Camel berwarna kuning bergambar unta biru.

Camel juga terlihat jelas dalam satu fragmen paling ikonis di sepak bola: saat Maradona mencetak gol tangan Tuhan dan melewati lima pemain Inggris sebelum membuat gol terbaik sepanjang sejarah Piala Dunia.

Setelah Piala Dunia 1986, RJReynolds hengkang dari perjanjian sponsor. FIFA kemudian membuat kebijakan drastis. Iklan rokok ditolak di semua turnamen yang digelar FIFA, sampai hari ini. Kebijakan serupa juga diambil UEFA.

Namun, FIFA memberi keleluasaan kepada asosiasi tiap negara untuk menerima sponsor dari mana pun (termasuk perusahaan rokok) dalam pengembangan sepak bola domestik. Kelonggaran ini yang memungkinkan PSSI bisa menggelar kompetisi profesional dengan nama Liga Dunhill, Liga Kansas, hingga Liga Djarum, sejak 1994 hingga munculnya Peraturan Pemerintah No.109/2014 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat Adiktif Produk Tembakau bagi Kesehatan. Peraturan itu melarang iklan rokok di turnamen olahraga.

FIFA juga tak memaksa klub-klub yang bernaung di bawah asosiasi domestik menolak iklan rokok. Kebijakan ini membuat beberapa klub menerima merek rokok sebagai sponsor utama, seperti Austria Vienna yang disokong Austria Tabak dan FK Sarajevo yang dibiayai Aura.

Sikap FIFA yang antirokok tak terlepas dari pengaruh WHO yang sejak 1988 memulai kampanye Hari Tanpa Tembakau Sedunia tiap 31 Mei.

Pada 2002, WHO meluncurkan Tobacco Free Sports bersama Komite Olimpiade Internasional International Olympic Committee (IOC), Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (Centers for Disease Control and Prevention/CDC), serta FIFA.

“FIFA bersama WHO dan Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat akan melihat bagaimana, 20 tahun kemudian, kita dapat menggunakan Piala Dunia bukan untuk mempromosikan tembakau, tetapi sebaliknya, sebagai media untuk mencerminkan pengetahuan dan kesadaran modern akan bahaya penggunaan tembakau,” kata Cooper.

FIFA dan WHO membuat slogan World Cup is Tobacco Free. Pertandingan pertama Piala Dunia 2002, laga yang membuat Prancis malu karena sebagai juara bertahan kalah 0-1 dari Senegal, digelar 31 Mei, tepat pada peringatan Hari Tanpa Tembakau Sedunia.

“Ini adalah ikhtiar FIFA untuk senantiasa menolak gagasan tentang segala jenis asosiasi antara produk-produk olahraga dan tembakau [serta elemen-elemen lain dari gaya hidup yang tidak dapat diterima masyarakat global]. FIFA berkomitmen untuk mendukung inisiatif mencegah kebiasaan merokok, khususnya di kalangan anak muda. Sebagai contoh, FIFA meminta para pelatih [yang kerap merokok karena stres] untuk menahan diri dari merokok di sisi lapangan selama pertandingan.”

Beberapa asosiasi, misalnya FA, mengadopsi kebijakan ini dan tak ada yang protes. Maurizio Sarri yang mengklaim biasa menghabiskan lima bungkus rokok sehari tak keberatan mengunyah permen pengganti untuk meredakan stres saat mendampingi Chelsea berlaga. Rio Ferdinand meminta maaf karena menjadi bintang iklan perusahaan rokok.

Sejak RJReynolds berkuasa di Meksiko 33 tahun lalu, tak ada lagi konflik antara sepak bola dan rokok, tidak seperti di tenis atau balap mobil yang punya periuk lebih ciut.

Tenis

Koran The New York Times menurunkan artikel berjudul Cigarette Wars Move to a New Arena pada 4 Maret 1990 yang menggambarkan dilema tenis Amerika Serikat: menolak perusahaan rokok demi alasan kesehatan di tengah sedikitnya sponsor atau menerima mereka demi pengembangan tenis profesional.

Polemik bermula dari serangan Louis W. Sullivan, Sekretaris Departemen Layanan Kesehatan (Health and Human Services), terhadap Virginia Slims Circuit, turnamen yang menjadi cikal bakal WTA Tour.

Louis meminta pemain dan promotor tenis menghindari uang rokok yang dia sebut blood money karena di setiap pertandingan tenis, sekitar 100 warga Amerika Serikat mati karena asap rokok. Dia menuduh perusahaan rokok mengeksploitasi citra kebugaran dan kesehatan atlet untuk mempromosikan kecanduan, penyakit, dan kematian.

Sebelumnya, juru bicara Philip Morris, Steve Weiss, berkata, “Kami tidak pernah meminta petenis untuk merokok.”

Weiss mengatakan minat perusahaan rokok untuk menjadi sponsor olahraga tidak ada hubungannya dengan rokok. “Kami mempromosikan hiburan untuk orang-orang di seluruh negeri.”

Philip Morris juga dibela sebagian khalayak Amerika Serikat, terutama petenis.  Zina Garrison, finalis tunggal putri Wimbledon 1990 mengatakan Philip Morris adalah organisasi yang punya jasa besar dalam perkembangan tenis putri. Billie Jean King, peraih 12 gelar grand slam, menggambarkan Philip Morris sebagai pendukung feminisme karena perusahaan tersebut mengangkat derajat tenis putri dari status anak tiri dan membantu para petenis menggapai kekayaan serta prestise.

Dua dekade kemudian, polemik tersebut benar-benar usang. Industri rokok dan industri olahraga bercerai. Pada 22 Juni 2009, Barack Obama menandatangani The Family Smoking Prevention and Tobacco Control Act yang melarang perusahaan tembakau menjadi sponsor olahraga, musik, dan kegiatan kebudayaan lain.

Perusahaan rokok kembali memicu kontroversi tenis, kali ini di Swiss. Uni Eropa melarang semua iklan rokok di perhelatan olahraga mulai 2005 dan empat tahun kemudian, Davidoff, merek rokok premium dan cerutu, memicu perdebatan karena menjadi sponsor ATP World Tour di Basel. Davidoff bisa membiayai turnamen tersebut karena Swiss bukan anggota Uni Eropa.

Balap

Kini, medan pertempuran opini antara industri rokok dan industri olahraga global ada di lintasan balap. Pertengahan Maret tahun ini, WHO mendesak pemerintah di negara-negara yang punya hajatan Formula 1 (F1) dan MotoGP melarang iklan, promosi, dan sponsor rokok. WHO juga meminta penyelenggara F1 dan MotoGP mengadopsi kebijakan organisasi lain, seperti FIFA, yang berkomitmen membebaskan arena olahraga dari tembakau dan menolak sponsor perusahaan rokok.

Sejak 13 tahun lalu, tim-tim di F1 tak lagi menerima sponsor perusahaan rokok meski rokok pernah andil besar di sirkuit.  British AmericanTobacco (BAT) yang selama bertahun-tahun menjadi penyandang dana beberapa tim di F1 membentuk British American Racing atau BAR (mirip cara Red Bull menyiasati larangan klub Bundesliga Jerman memakai nama perusahaan dengan mengganti kepanjangan RB Leipzig menjadi Rassen Ballsport Leipzig). BAR menjadi kontsruktor yang berpartisipasi di balapan F1 dari 1999 sampai dengan 2005. Satu musim memakai nama BAR dan lima musim sisanya memakai nama Lucky Strike BAR Honda.

BAR adalah konstruktor yang memoles Jenson Button muda, yang kemudian menjadi juara dunia bersama Brawn GP pada musim 2009.

Larangan sponsor rokok di banyak negara penyelenggara F1 memaksa Lucky Strike menarik diri di musim 2006 dan menandai akhir peran industri rokok di F1. Tetapi hanya untuk sementara. Kesulitan keuangan memaksa konstruktor membuka diri terhadap perusahaan rokok pada tahun ini. Philip Morris menjadi sponsor Ferrari dengan branding Mission Winnow, sedangkan BAT mensponsori McLaren dengan merek A Better Tomorrow.

Logo A Better Tommorrow terlihat berbeda dengan semua produk rokok BAT. Sementara, Mission Winnow adalah derivasi dari citra Marlboro, salah satu produk Philip Morris paling populer.

Kedua raksasa sigaret dunia itu langsung menghadapi tembok besar. Seri pertama balapan yang selalu dimulai di Australia penyebabnya. Dengan Tobacco Advertising Prohibition Act 1992, Australia menjadi pionir pelarangan iklan dan sponsor perusahaan rokok di olahraga. Namun, ada perkecualian untuk olahraga level internasional, termasuk F1. Kemudian pada 2000 muncul amandemen yang menghilangkan perkecualian tersebut dan sejak 2006 Australia benar-benar melarang semua jenis olahraga disponsori perusahaan rokok.

McLaren terpaksa menghilangkan logo A Better Tomorrow dari bodi mobil yang dikemudikan Lando Noris dan Carlos Sains Jr. dan menggantinya dengan logo Seven Eleven, jaringan toko yang menjadi konsumen terbesar rokok-rokok produksi BAT. Begitu pula Ferrari yang harus mencopot logo Mission Winnow dari mobil Sebastian Vettel dan Charles Leclerc.

Baik Philip Morris maupun BAT tak punya rencana menarik dukungan mereka di F1 karena di beberapa negara, larangan terhadap sponsor rokok tak seketat Australia.

Jean Todt, bos Scuderia Ferrari, pada Maret lalu, menyatakan tak akan memutus kontrak dengan Philip Morris meski Ferrari kemudian mencopot logo Mission Winnow pada seri balapan di Kanada dan Prancis karena restriksi iklan rokok.

BAT juga tetap menjadi sponsor McLaren walaupun A Better Tomorrow tidak akan banyak terlihat di sepanjang musim ini.

“BAT punya sejarah panjang di balapan. Kemitraan kami berbasis pengembangan teknologi dan tidak terkait dengan iklan rokok. Kami tak punya urusan dengan tembakau di bisnis ini,” kata CEO McLaren CEO Zak Brown seperti dikutip dari Autosport, Juni lalu.