Sikapi Corona, Ada Opsi Pembatalan Olimpiade Tokyo 2020

Tokyo bersiap menyambut Olimpiade & Paralympic Games 2020 - Reuters/Yuya Shino
27 Februari 2020 09:02 WIB Hadijah Alaydrus Olahraga Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Komite Olimpiade Internasional akan memilih opsi membatalkan Olimpiade Tokyo 2020, dibandingkan opsi memindahkan lokasi event tersebut jika wabah virus corona semakin meluas.

Kekhawatiran terkait dengan penyebaran virus corona saat Olimpiade Tokyo 2020 yang akan dimulai Juli mendatang ini semakin menjadi-jadi ketika Jepang mengumumkan temuan kasus baru dan kompetisi sepak bola di Negeri Sakura tersebut ditunda hingga bulan depan.

Anggota Senior Komite Olimpiade Internasional (IOC) Dick Pound menuturkan pembatalan pertandingan merupakan opsi yang paling mungkin diambil komite, dibandingkan opsi relokasi atau penundaan.

Keputusan ini tentu saja akan mempertimbangkan tingkat keparahan dan ancaman virus corona bagi pagelaran olah raga terbesar di dunia tersebut. Pound yang merupakan mantan perenang Kanada memperkirakan komite memiliki waktu dua hingga tiga bulan untuk menentukan nasib Olimpiade Tokyo 2020. Artinya, keputusan akan diambil sekitar akhir bulan Mei mendatang.

"Jika IOC memutuskan perhelatan tidak dapat dijalankan sesuai rencana di Tokyo, Anda akan melihat pembatalan," ujar Pound seperti dikutip dari The Guardian.

Saat ini, Pound menuturkan banyak pihak yang bertanya terkait dengan kondisi penanganan dan keamanan di Tokyo. Selasa lalu (25/2/2020), pemerintah Jepang mengumumkan temuan dua kasus di pusat kebugaran di Chiba.

Seluruh pertandingan sepak bola J-League ditunda hingga 15 Maret 2020. Sementara itu, tim sepak bola U-23 telah membatalkan rencana bermain melawan Jepang di Kyoto pada Kamis ini (27/2/2020).

Pelatihan 80.000 sukarelawan Olimpiade telah ditunda dari jadwal semula pada 22 Februari 2020. Pelatihan ini akan ditunda hingga dua bulan.

Akibat bertambahnya jumlah kasus virus corona, partisipasi umum bagi publik dalam Tokyo marathon harus dibatalkan. Alhasil, gelaran ini hanya akan diikuti oleh 176 atlit dan 30 atlit penyandang cacat. Padahal, pihak penyelenggara telah memperkirakan partisipasi umum pada Tokyo marathon tahun ini akan mencapai 38.000 orang.

Sumber : Bisnis Indonesia