Kabar Duka, Juara Dunia Paralayang Indonesia Meninggal Dunia

dr. Elisa S. Manueke, Sp.M - Rspauhardjolukito.com
20 Maret 2020 14:30 WIB Jumali Olahraga Share :

Harianjogja.com, JOGJA - Mantan juara dunia paralayang di nomor ketepatan mendarat di ajang PGAWC IV Slovenia Marsma TNI (Purn) dr Elisa Samson Manueke meninggal dunia, Kamis (19/3/2020), usai menjalani perawatan selama dua pekan.

Sebelumnya, pria yang juga pengurus paralayang Jawa Tengah itu mengalami kecelakaan saat mencoba berlatih menggunakan gantole, Angin yang cukup kencang, menyebabkan adanya turbulensi dan membuat usaha suami dari Lis Andriana ini oleng dan terjatuh.

Alhasil, Elisa Samson harus mengalami trauma di leher, dada dan kepala. Dan sempat dirawat selama dua pekan sebelum meninggal dunia pada Kamis (19/3/2020).

Ketua KONI DIY Prof Dr Djoko Pekik Irianto mengungkapkan baru mengetahui kabar meninggalnya atlet senior tersebut. Meski tidak mengenal secara pribadi, KONI DIY mengucapkan berbela sungkawa dan kehilangan salah satu atlet terbaik Indonesia.

“Kami ikut berduka. Semoga nantinya, sepeninggal beliau lahir atlet-atlet yang mampu berprestasi minimal seperti almarhumah, atau lebih baik dari capaian almarhumah,” kata Djoko Pekik kepada Harianjogja.com, Jumat (20/3/2020).

Djoko mengungkapkan, saat ini pihaknya tengah berkoordinasi dan berencana mengirimkan perwakilan KONI DIY untuk hadir di pemakaman almarhumah di Solo, Jawa Tengah. “Kami sedang berkoordinasi dan akan ada perwakilan dari KONI DIY ke rumah duka,” ucap Djoko.

Kabar meninggalnya Elisa Samson Manueke sebelumnya disampaikan oleh atlet paralayang nasional, Hening Paradigma. Ia mengaku kehilangan sang senior yang juga rekan satu timnya, Elisa Samson Manueke yang meninggal dunia karena mengalami kecelakaan saat latihan di Parangtritis, Bantul.

Hening mengatakan jika Elisa meninggal dunia di RS Sardjito usai menjalani perawatan selama dua pekan.

"Kronologisnya, saat itu beliau latihan paralayang. Setelah selesai berlatih beliau ingin mencoba gantole. Tapi anginnya dalam kondisi cukup susah. Angin dari kiri cukup kencang. Ada turbolensi juga, sehingga kondisi kurang terkontrol," kata Hening, dikutip dari laman Antara.

"Dampak dari kecelakaan itu menyebabkan beliau mengalami trauma di leher, dada dan kepala. Beliau menjalani perawatan hingga meninggal dunia, Kamis (19/3/2020),” kata atlet peraih medali emas Asian Games 2018 itu.

Menurut Hening, gantole bagi Elisa bukan hal yang baru karena sebelum paralayang berkembang, almarhum merupakan atlet gantole. Pria yang tinggal di Bogor, Jawa Barat itu menyebut seniornya itu merupakan atlet multitalent.

"Beliau bukan hanya rekan satu tim, namun juga guru saya dan beliau sudah saya anggap sebagai orang tua. Kita bicara tentang hidup, berlatih paralayang dan itu selalu saya lakukan saat pertandingan," kata atlet berusia 34 tahun itu.

Hening mengaku cukup dekat dengan juara dunia paralayang di nomor ketepatan mendarat di ajang PGAWC IV Slovenia itu, bahkan dirinya pernah sekamar dengan sang senior saat menjalani beberapa kejuaraan. Diskusi terus dilakukan dengan pria yang pernah memegang rekor lintas alam pada 2012 itu.

"Yang luar biasa dari beliau adalah semangatnya, motivasi membagikan ilmunya kepada teman-teman junior. Itu yang banyak berkesan," kata Hening menambahkan.

Meski merasa kehilangan, Hening mengaku tidak bisa menghadiri pemakaman sang senior di Solo, Jawa Tengah hari ini (Jumat, 20/3), karena di kotanya (Bogor) lagi merebak virus corana. Bahkan sang Wali Kota Bima Arya dinyatakan positif COVID-19.

"Yang bikin saya sedih, pengen banget melayat beliau. Tapi saya berada di lokasi pandemi corona. Saya ragu ke sana. Saya khawatir jadi pembawa," kata Hening.