Sah! Olimpiade Tokyo 2020 Ditunda

Seorang pejalan kaki sambil mengenakan masker melintas di dekat logo olimpiade di kota Tokyo, Jepang (12/3/2020) - Antara.
25 Maret 2020 01:02 WIB Oktaviano DB Hana Olahraga Share :

Harianjogja.com, JAKARTA - Penyelenggaraan Olimpiade Tokyo 2020 akhirnya secara resmi ditunda akibat pandemi virus corona atau Covid-19 yang penyebarannya kian meluas.

Penundaan itu disepakati bersama Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe bersama dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional (IOC) Thomas Bach melalui pembicaraan via telepon, Selasa (24/3/2020) pagi waktu setempat.

Dilansir Antara, Abe menyampaikan hasil pembicaraan tersebut kepada wartawan di tengah meningkatnya kewaspadaan akan pandemi virus corona. Rencananya, pesta olahraga antarnegara itu baru akan dihelat pada 2021.

"Kami menanyakan pada Bach untuk mempertimbangkan penundaan selama satu tahun agar nantinya semua atlet bisa bermain pada kondisi terbaik, dan memastikan agenda ini bisa berlangsung dengan aman bagi penonton. Presiden Bach mengatakan bahwa ia setuju 100 persen," kata Abe.

Tokyo sebelumnya telah menyelesaikan fase persiapan Olimpiade saat virus corona mulai merebak secara global. Meski sempat memaksa agar gelaran tersebut berlangsung sesuai jadwal yakni pada Juli hingga Agustus 2020, namun pada awal pekan Abe sempat mengutarakan gagasannya akan penundaan yang tak terelakkan.

Gubernur Tokyo Yuriko Koike pada kesempatan yang berbeda mengatakan bahwa Olimpiade Tokyo nantinya akan dilaksanakan pada musim panas 2021, namun tetap mengusung nama 'Tokyo 2020'.

Kerugian Besar

Pengunduran jadwal atau pembatalan Olimpiade Tokyo 2020 ini memang menimbulkan kekhawatiran tersendiri bagi Jepang selaku tuan rumah. Pasalnya, persiapan dengan anggaran sangat signifikan telah digelontorkan baik dari penyelenggara, sponsor, dan perusahaan media.

Penyelenggara sudah mengungkapkan pada Desember 2019 bahwa Olimpiade ini ditaksir menelan dana 1,35 triliun yen (Rp178,12 triliun). Namun, angka itu belum termasuk sekitar tiga miliar yen (Rp395 miliar) untuk pemindahan ajang marathon dan jalan cepat dari Tokyo ke Sapporo yang ada di bagian utara Jepang, demi menghindari cuaca terik saat musim panas.

Anggaran Olimpiade Tokyo 2020 dibagi antara komite penyelenggara dan pemerintah pusat Jepang, sedangkan IOC sendiri menyumbangkan lebih dari 800 juta dolar AS (Rp11,39 trilun).

Penyelenggara menyatakan pemerintah pusat Jepang akan membayarkan sekitar 150 miliar yen (Rp19,7 triliun) yang kebanyakan untuk mendanai Stadion Nasional yang baru. Kendati begitu, Badan Audit Jepang telah memangkas anggaran yang diajukan pemerintah pada 2013 menjadi 1,06 triliun yen (Rp139 triliun) pada 2018.

Selain itu, Olimpiade Tokyo 2020 sudah mencatat rekor pemasukkan sponsor domestik lebih dari US$3 miliar. Nilai pemasukan itu setara dengan Rp42,7 triliun.

Ini belum termasuk kemitraan dengan perusahaan-perusahaan Jepang seperti Toyota, Bridgestone dan Panasonic, dan perusahaan-perusahaan lain seperti Samsung dari Korea Selatan, yang melalui program sponsor TOP, melakukan kesepakatan terpisah dengan IOC yang bernilai jutaan dolar AS.

Olimpiade Tokyo

Seorang awak media menunggu konferensi pers terkait Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo/ Antara.

Kerugian juga dialami oleh perusahaan media yang membeli hak siar ajang tersebut. NBC Universal pada Desember mengumumkan sudah menjual lebih dari US$1 miliar (Rp14,23 triliun) dalam bentuk komitmen iklan yang direncanakannya disiarkan di Amerika Serikat dan nilainya nyaris melewati angka US$1,2 miliar (Rp17 triliun).

Induk perusahan ini, Comcast, setuju membayar US$4,38 miliar (Rp62,36 triliun) untuk hak media Amerika Serikat bagi empat Olimpiade dari 2014 sampai 2020, demikian dilaporkan Variety.

Discovery Communications, induk saluran televisi Eurosport, juga telah sepakat mengeluarkan 1,3 miliar euro (Rp18,5 triliun) untuk menayangkan Olimpiade di seluruh Eropa dari 2018 sampai 2024.

Pada telekonferensi dengan para investor belakangan ini, Gunnar Wiedenfels, chief financial officer Discovery, mengisyaratkan bahwa pembatalan Olimpiade tidak akan berdampak besar kepada keuangan perusahaan ini karena investasi mereka sudah dilindungi asuransi.

Penundaan Olimpiade Tokyo ini pun berdampak pada kinerja ekonomi Jepang. Menurut para ekonom, sebagian besar belanja domestik untuk Olimpiade sudah selesai, sehingga skenario pembatalan berdampak kecil pada belanja itu.

Sebuah penelitian yang dilakukan Bank of Japan pada 2016 memperkirakan anggaran belanja berkaitan Olimpiade akan mencapai puncak 0,6 persen dari produk domestik bruto (GDP) pada 2018 dan kurang dari 0,2 persen GDP pada 2020.

Olimpiade Tokyo

Seorang wanita dan anjingnya berdiri di depan layar yang memperlihatkan hitung mundur bagi mulainya Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo pada 23 Maret 2020/Antara.

Kendati begitu, pariwisata yang menjadi pernyumbang besar bagi pertumbuhan ekonomi Jepang belakangan ini akan terpukul. Para ekonom menyatakan ancaman terbesar berasal dari penyebaran virus corona itu sendiri.

Pada 2019, Jepang mendapat kunjungan 31,9 juta wisatawan asing yang berbelanja hampir 4,81 triliun yen (Rp634 triliun).

Nomura Securities memperkirakan konsumsi 240 miliar yen dari pariwisata terkait Olimpiade 2020 akan lenyap bila Olimpiade dibatalkan.

Sementara itu, Ekonom Citigroup Global Markets Japan Kiichi Murashima menyatakan kerugian dari pariwisata terkait Olimpiade akan mencapai 0,2 persen dari pertumbuhan GDP pada triwulan III/2020 bila dibandingkan triwulan sebelumnya. 

Sumber : Bisnis Indonesia