Cerita Sukses Wahyana, Guru SMP di Gunungkidul yang Jadi Wasit Bulu Tangkis Olimpiade Tokyo

Wahyana, Guru SMP Negeri 4 Patuk. - Istimewa/Dokumentasi Pribadi
04 Agustus 2021 14:47 WIB David Kurniawan Olahraga Share :

Harianjogja.com, GUNUNGKIDUL--Wahyana, guru olahraga SMP Negeri 4 Patuk, Gunungkidul, menjadi wasit bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020. Berikut laporan wartawan Harian Jogja, David Kurniawan.

Final tunggal putri cabang bulu tangkis Olimpiade 2020 mempertemukan atlet China, Chen Yu Fei melawan Tai Tzu Ying asal Taiwan. Pertandingan ini dipimpin wasit asal Indonesia, Wahyana yang sehari-hari menjadi guru olahraga di SMP Negeri 4 Patuk di Kalurahan Ngoro-oro, Patuk. Ia dibantu empat hakim garis untuk mengawasi pertandingan.

BACA JUGA: Amerika Serikat Jawara Piala Emas Concacaf Usai Bekuk Meksiko

Laga kedua atlet ini berjalan seru dengan kejar-kejaran angka. Di set pertama, ratu bulu tangkis China ini berhasil memenangi pertandingan dengan skor 21-18. Namun di set kedua, Tai Tzu Ying berhasil menyamakan kedudukan setelah unggul 21-19 sehinga permainan dilanjutkan ke set ketiga.

Di babak penentuan ini, perolehan angka berlangsung ketat hingga akhir laga. Pada saat unggul 20-18, Chen Yu Fei melepaskan bola dropshot yang tak bisa dikembalikan sempurna oleh lawannya asal Taiwan. Kok yang dipukul Tai Tzu Ying tidak bisa melintasi net sehingga jatuh di area permainan sendiri.

Wahyana pun memberikan skor untuk Chen Yu Fei dan memenangkan pertandingan 21-18. Sang atlet pun menyumbangkan medali emas untuk negaranya. Sementara, tugas Wahyana sebagai wasit juga telah selesai.

Selama Olimpiade 2021, pria asal Kapanewon Godean, Sleman ini memimpin 27 pertandingan, mulai dari babak penyisihan hingga final tunggal putri yang berlangsung di Musashino Forest Sports Plaza, Minggu (1/8/2021).

BACA JUGA: Niatan Chelsea Gaet Lukaku Jadi Buah Bibir

“Hari ini pulang ke Jakarta dan baru 13 Agustus balik ke Jogja,” kata Wahyana kepada Harianjogja.com, Rabu (4/8/2021).

Memimpin laga partai final cabang olahraga bulu tangkis di Olimpiade merupakan puncak karier sebagai seorang wasit. Meski demikian, Wahyana mengaku tidak grogi karena sudah terbiasa memimpin laga-laga penting di kejuaraan bulu tangkis tingkat internasional mulai dari kejuaraan super series, Thomas-Uber Cup hingga Piala Sudirman.

“Mungkin sudah banyak pengalaman jadi sudah terbiasa. Contohnya saya juga pernah memimpin laga Lee Chong Wei melawan Lin Dan di final China Open, pada saat keduanya masih aktif bermain,” katanya.

Selama jadi wasit bulu tangkis, ia sudah berpartisipasi dalam 77 kejuaraan, baik tingkat nasional maupun internasional. Wahyana pun mengaku sudah berkeliling ke sejumlah Negara dari kawasan Asia, Eropa hingga Australia. 

“Saya ke China sembilan kali. Lalu Jepang, India. Terus ada juga Australia, Spanyol hingga memimpin laga final All England di Inggris,” ungkapnya.

BACA JUGA: Brasil Melaju ke Final Sepak Bola Olimpiade setelah Menang Adu Penalti

Agar bisa berpartisipasi di ajang Olimpiade, seorang wasit harus memiliki lisensi yang dikeluarkan oleh Badminton World Federation (BWF). Di Indonesia hanya ada dua orang, yakni Wahyana salah seorang wasit asal Surabaya.

Wahyana lebih senior sehingga diprioritaskan untuk mewakili Indonesia di Olimpiade. 

“Sertifikat dari BWF saya peroleh di 2016 lalu dan bisa memimpin pertandingan di Olimpiade. Tapi saat itu ada yang lebih senior sehingga baru mendapatkan kesempatan di tahun ini,” kata dia.

Meski memiliki karier cemerlang di dunia perwasitan bulu tangkis, Wahyana pada awalnya tidak kepikiran tentang profesi ini. Pada saat muda, ia menekuni olahraga bola voli dengan harapan menjadi atlet profesional. Dia sempat masuk tim DIY.

Meski demikian, cedera engkel yang dideritanya membuat mimpi-mimpi itu pupus. Dia pun pensiun dari olahraga yang digelutinya sejak kecil. “Disarankan dokter berhenti main voli dan saya menurutinya,” katanya.

Wahyana pun banting setir ke bulu tangkis, tapi tidak menjadi pemain tetapi menjadi perangkat pertandingan. Di awal karir ia hanya menjadi hakim garis mulai 1998 sampai 2000.

“Terus meningkat dari awalnya kejuaran kabupaten, lanjut ke provinsi. Seiring lisensi wasit yang terus ditingkatkan maka bisa berpartisipasi ke PON, Sea Games, Asian Games hingga Olimpiade. Sepanjang karier sudah lebih dari 2.000 pertandingan yang saya pimpin,” katanya.

BACA JUGA: Ibrahimovic Ternyata Ingin Balik ke PSG

Tahun depan ia sudah akan pensiun sebagai wasit karena ada batasan usia hingga 55 tahun. Ia berharap terus ada regenerasi dan wasit-wasit muda Indonesia bisa meningkatkan kemampuan sehingga dapat memimpin ajang bergengsi di tingkat internasional.

“Selain terus mempelajari peraturan permainan, kemahiran berbahasa Inggris juga penting. Meski saya tidak kursus, tapi bisa berbicara dengan baik sehingga menjadi kunci untuk menjadi wasit di tingkat dunia,” katanya.

Wahyana pun berterima kasih kepada Pemkab dan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Gunungkidul karena memberikan dukungan secara penuh. Meski memiliki kesibukan yang padat, ia tetap melaksanakan tugas sebagai guru.

“Berhubung masih pandemi, pelajaran dilakukan secara online. Di sela-sela pertandingan Olimpiade saya masih menyempatkan memberikan tugas keolahragaan kepada anak-anak di sekolah,” katanya.