Hadapi PON Papua, Atlet DIY Latihan Mandiri di Tengah Pandemi

Sukma Lintang Cahyani - Harian Jogja/Istimewa
18 Agustus 2021 23:07 WIB Jumali Olahraga Share :

Harianjogja.com, BANTUL - Sukma Lintang Cahyani, 17, tinggal selangkah lagi tampil di PON Papua. Sejumlah perjuangan harus ditempuh oleh remaja itu untuk mewujudkan impian mewakili DIY pada ajang multievent terakbar nasional tersebut. Berikut laporan yang dihimpun wartawan Harian Jogja Jumali.

Tak hanya harus melawan jenuh karena sempat menjalani latihan mandiri beberapa bulan di awal pandemi Covid-19 2020 lalu, Lintang juga harus rela berlatih terpisah dari dua koleganya, Dyah Puspitaningtyas dan Rahma Yuma Fadhila. Ketiganya dinyatakan lolos PON Papua setelah merebut medali perak kategori speed wr relay putri pada babak kualifikasi (Pra) PON di Surabaya, September 2019 lalu.

“Setelah lolos itu, kami sempat berlatih bersama di Puslatda. Namun, karena pandemi, akhirnya kami harus menjalani latihan mandiri,” kata siswa SMA N 11 Jogja ini beberapa waktu lalu.

Seusai menjalani latihan mandiri, sejatinya Lintang bersama dengan Dyah dan Rahma sempat dijadwalkan kembali menjalani latihan bersama di sirkuit panjat tebing Stadion Mandala Krida, November 2020. Tapi, Lintang harus kembali menjalani latihan terpisah.

Sebab, di waktu bersamaan, Lintang masuk dalam 10 atlet yang lolos mengikuti Pelatnas Junior dengan rentang usia 15-17 tahun untuk persiapan Olimpiade 2024. Lintang berhasil menyisihkan 47 atlet junior lain dari 19 provinsi di Indonesia dalam seleknas yang digelar PP FPTI di Jakarta Internasional Climbing Wall Park, Cakung, Jakarta Timur, 19-24 Oktober 2020 lalu.

Selain itu, selama menjalani Pelatnas, Lintang sempat bergabung bersama 11 atlet senior dalam ajang IFSC Climbing World Cup 2021 di Villars, Swiss, Juli lalu. “Jadi sejak awal November 2020 itu saya berlatih di Jakarta. Setelah itu saya belum pernah berlatih bersama lagi,” jelas Lintang.

Selama menjalani Pelatnas, Lintang tetap menerapkan protokol kesehatan yang ketat. Selain rajin menjalani tes swab, selama menjalani latihan di Jakarta dirinya juga wajib menggunakan masker.

“Selama di sini, protokol kesehatannya ketat. Tapi, rencana saya akhir bulan ini akan kembali ke Jogja dan mulai bergabung dalam Pelatda,” kata gadis kelahiran Jogja, 19 September 2004 ini.

Bagi Lintang, bergabung dalam Pelatda dan berlatih bersama dengan Dyah dan Rahma adalah hal yang penting. Sebab, dirinya menyadari jika dilihat dari usia, dia adalah yang termuda. Selain itu, lewat Pelatda ini diharapkan target satu emas yang dibebankan akan mampu terealisasi.

“Target satu emas di speed relay dan saya optimistis  mampu meraihnya,” ucap putri pasangan Budi Purnomo dan Sri Lestari ini.

Pelatih PON Panjat Tebing DIY Sultoni Sulaiman mengatakan Lintang, Dyah dan Rahma akan turun di dua nomor, perorangan speed dan relay. Sedangkan targetnya minimal membidik satu medali emas. Training camp rencananya digelar mulai awal September.

“Karena kami akan melakukan penerbangan pertama pada tanggal 22 September, dan mulai bertanding pada 27 September mendatang,” jelas Sultoni.

Pandemi juga berdampak pada cabang andalan DIY di PON Papua, yakni panahan. Pelatih PON Panahan DIY Subarno, mengungkapkan adanya pandemi Covid-19 dan PPKM membuat pihaknya menerapkan beberapa strategi agar target emas di PON Papua yakni tiga emas mampu tercapai. Target ini jauh dari realisasi PON sebelumnya, di mana tim panahan DIY hanya mampu meraih dua emas dan dua perak.

“Kami akan andalkan atlet pelatnas di nomor recurve putra yang didalamnya ada Arif Dwi Pangestu. Sementara di nomor compound beregu kami akan bertumpu kepada Prima [Prima Wisnu Wardhana, peraih emas di SEA Games 2017 dan perak di SEA Games 2019] dan di perorongan putra kita ada Prima dan Hendra Purnama,” ucap Subarno.

Subarno masih punya simpanan kekuatan yakni di sektor putri, yakni Titik Kusuma Wardani. Meski gagal lolos ke Olimpiade, namun Titik cukup bisa diandalkan untuk mendulang emas di PON Papua.

Subarno menyatakan selama pandemi Covid-19 dan penerapan PPKM tidak ada kendala. Sebab, meski 16 atlet yang tergabung dalam tim panahan DIY menjalani latihan mandiri di rumah dan beberapa menjalani pelatnas, tapi tetap terpantau untuk perkembangan latihan.

“Kebetulan atlet kami kan ada yang di PPLP dan Pelatnas jadi bisa terkontrol. Begitu juga untuk titik latihan di Kulonprogo dan Stadion Sultan Agung juga bisa kami kontrol,” kata Subarno.

Tim panahan DIY akan menjalani training camp pada 22 Agustus hingga 19 September 2021 dan menjalani karantina sebelum berangkat ke Papua 26 September mendatang. “Jadi dengan sejumlah persiapan tersebut kami optimistis target tercapai,” kata Subarno.

KONI DIY telah mendaftarkan 130 atlet dan 54 pelatih untuk mengikuti PON Papua 2-15 Oktober 2021. Pada PON kali ini DIY ditargetkan meraih 11 emas. Target ini di bawah realisasi PON sebelumnya. Pada PON Jabar 2016, DIY menempati peringkat kesepuluh dengan 16 emas, 15 perak dan 25 perunggu. Adapun jumlah atlet yang dikirim pada PON Jabar adalah sebanyak 323 atlet, 97 pelatih, 46 mekanik, dan 86 pendamping.