Inilah Pemenang Solopos Diplomat Jogja Esport Arena 2021

Grand Final Solopos Diplomat Jogja Esport Arena (SDJEA) yang digelar di Sleman City Hall, Minggu (19/12/2021). - Harian Jogja/Abdul Hamid Razak
20 Desember 2021 04:37 WIB Abdul Hamied Razak Olahraga Share :

Harianjogja.com, SLEMAN—Grand Final Solopos Diplomat Jogja Esport Arena (SDJEA) sukses digelar di DIY. Kegiatan tersebut baru pertama digelar di Jogja dan diikuti oleh 160 tim. Masing-masing 80 tim player PUBG dan 80 tim player Mobile Legend.

Dari jumlah tersebut, peserta disaring menjadi 16 player PUBG dan 4 player Mobile Legend yang bertanding di babak final di Sleman City Hall. "Kegiatan pertama dan kedua SDJAE digelar di Solo kemudian kami memperluas kegiatan di Jogja ini. Ke depan kami berencana bisa juga merambah Semarang," kata Regional Marketing Community Development Supervisor Jawa Tengah-DIY PT. Wismilak Inti Makmur, Tbk. Fresha Kurnia Herdianto di sela-sela kegiatan Final SDJEA yang digelar di Sleman City Hall, Minggu (19/12/2021).

Pemenang PUBG diraih Tim Rein DVL yang meraih poin tertinggi dengan 60 poin, Tim Sekawan berada peringkat kedua dengan 58 poin dan Tim Heaven Team di peringkat ketiga dengan 52 poin. Adapun tim pemenang player Mobile Legend, peringkat pertama diraih Tim Bless Yudhistira, kedua Tim Ordinary Max, ketiga diraih Tim 404 dan terbaik keempat tim God Busters.

Fresha Kurnia Herdianto mengatakan industri esport semakin berkembang, tidak hanya menjadi lifestyle tetapi juga mampu membangun perekonomian. Diplomat, katanya, hadir untuk mendukung ekosistemnya ke arah yang positif.

Salah satunya dengan menggelar turnamen kolaborasi antara Diplomat dengan Solopos yang digelar untuk ketiga kalinya.  Jumlah tim yang mengikuti SDJAE, kata Fresha, dari tahun ke tahun terus meningkat. Hal itu dikarenakan jumlah peminat esport ini semakin hari semakin banyak. "Kegiatan ini bisa menjadi tempat eksplorasi bagi industri esport untuk mencari pemain-pemain profesional. Bahkan ada yang dulu juara, dilirik oleh club esport untuk menjadi timnya. Tentu ini memberikan nilai positif," katanya.

Ia berharap para gamer tidak hanya bisa bermain saja agar tidak sia-sia. Mereka didorong untuk mengikuti berbagai kompetisi esport. Jika memungkinkan menjadi atlet profesional dan menghasilkan. "Makanya kami tidak lupa untuk memberikan edukasi kepada para gamers agar tetap tekun belajar dan bersungguh-sungguh. Orang tua juga bisa ikut mengingatkan dan mengarahkan," katanya.

Sebelum Final SDJEA digelar, panitia menghadirkan talkshow dengan sejumlah narasumber dari Kementerian Pariwisata Ekonomi dan Kreatif (Kemenparekraf), pelaku industri esport hingga developer games di Indonesia. Talkshow mengangkat tema Esport Industri yang Kian Diperhitungkan yang digelar di Sleman City Hall.

Direktur Aplikasi Permainan TV dan Radio Kemenparekraf, Syaifullah, mengatakan berbagai kompetisi esport digelar Kemenparekraf. Hal ini sebagai bentuk dukungan pemerintah untuk pengembangan olahraga ini. Tidak menutup kemungkinan, katanya, event esport digelar di destinasi-destinasi wisata. "Kami juga menjadi sponshirship di beberapa event. Kami juga bersinergi dengan game developer untuk mengangkat game lokal. Sebab ke depan esport di Indonesia akan terus dikembangkan," katanya.

Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Sleman, Agung Armawanta, mengatakan sampai saat ini esport belum masuk kurikulum pendidikan dan pelaksanaannya masih bisa dilakukan secara nonformal. Misalnya digelar pemerintah dengan berkolaborasi dengan pihak swasta. Dengan demikian esport bisa menjadi ajang yang diandalkan pelajar. "Kami juga mewacanakan untuk menggelar esport by label, misalnya dengan Bupati Cup. Terlepas dari itu, atlet esport tetap harus disiplin, disiplin waktu, disiplin belajar," katanya.

Ketua Pengurus Besar Esport Seluruh Indonesia (PB ESI),Andry Wibowo, mengakui kebiasaan anak-anak bermain game saat ini menimbulkan keresahan bagi para orang tua. Namun jika kebiasaan tersebut diarahkan dengan baik dan benar, anak bisa menjadi atlet esport yang profesional.

"Dunia maya tidak bisa dibendung, semua orang bisa mengaksesnya. PB ESI ada juga untuk ikut mengontrol implikasi positif dan negatif game-game ini," kata Andry.

Ia mengajak agar orang tua bisa melihat hal itu baik dari sisi negatif maupun positifnya. Ia juga mengingatkan para gamers untuk lebih mengutamakan studi lebih dulu dibandingkan hobi.

"Orang tua tetap harus mengarahkan kebiasaan anak bermain game itu pada sisi positifnya. Oleh karenanya, tumbuhkan nilai-nilai kedisiplinan pada anak, kapan waktu belajar, kapan waktu bermain," katanya.

Direktur Bisnis dan Konten Solopos Media Group, Suwarmin, juga mengamini pendapat Andry. Menurutnya, Solopos mendukung kegiatan esport karena keberadaan game baik online maupun offline tidak bisa dihindari. "Tentu kompetisi esport juga memiliki sisi positif di mana anak dibangun mentalnya, dibangun sportivitasnya. Kami berupaya memberi warna yang positif seperti ini," kata Warmin.

CEO ALIN Esport, Adhi Saputra juga menggarisbawahi agar atlet esport tetap menerapkan kedisiplinan yang tinggi. Mereka harus pandai-pandai membagi waktu kapan bermain dan kapan belajar. Dia mengakui masih banyak orang tua yang memandang negatif anak-anak yang biasa bermain game. "Di klub kami, kami tata waktunya supaya tidak bertabrakan dengan studi. Sebab perestasi akademik masih lebih penting sementara prestasi game itu hanya bonus," katanya.

Game Producer Gameloft Indonesia JOG Studio, Satrio Budi menyebut perkembangan produksi game di Indonesia sangat pesat. Bahkan saat ini teknologi yang digunakan oleh produsen game lokal sudah menggunakan teknologi produsen di luar negeri. "Dari sisi pasar, market Indonesia juga sangat besar," katanya.

Brand Manager Diplomat Mild, Ratri Nalayani mengatakan kolaborasi Diplomat dengan Solopos untuk menggelar SDJEA untuk ketiga kalinya tidak terlepas dari tingginya antusiasme masyarakat mengikuti kompetisi tersebut. "Diplomat ingin tetap mewadahi esport ini secara konsisten. Tentu untuk terus mengasah kemampuan para atlet esport," katanya.